<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Program Kaderisasi Ulama&#039; ISID Gontor</title>
	<atom:link href="http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pku.isid.gontor.ac.id</link>
	<description>Toward Islamic Civilization</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 05:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Sekularisasi di Indonesia: Sebuah Eksperimen Gagal</title>
		<link>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/21</link>
		<comments>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/21#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 05:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pkuisidgontor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pku.isid.gontor.ac.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Lalu Nurul Bayanil Huda Menarik apa yang dinyatakan oleh Prof. Hamka, ketika ditanya; Bagaimana pendapatnya tentang gagasan bahwa modernisme haruslah ditegakkan atas sekulerisme? Diakhir jawaban, beliau menyindir dengan mengatakan : Dan kalau ada orang atau golongan yang menganjurkan &#8230; <a href="http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/21">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Lalu Nurul Bayanil Huda</p>
<p>Menarik apa yang dinyatakan oleh Prof. Hamka, ketika ditanya; Bagaimana pendapatnya tentang gagasan bahwa modernisme haruslah ditegakkan atas sekulerisme? Diakhir jawaban, beliau menyindir dengan mengatakan : Dan kalau ada orang atau golongan yang menganjurkan modernisasi yang isinya bermaksud westernisasi, atau modernisasi bermaksud sekulerisme, orang itu adalah “burung gagak” yang telah terlepas dari masyarakat kaumnya. “Duduk diatas singgasana gading, terpesona pada budaya barat dan hendak mengatur dari atas” (Hamka, Dari Hati Ke Hati,  Pustaka Panjimas Jakarta, Tahun 2002, P 271).<br />
Tamsil Hamka dengan burung gagak ini sungguh dalam dan tepat, sebab bagi beliau, “Menurut dongeng burung gagak itu dahulu hidup seperti ayam, berjalan baik-baik di atas tanah. Tetapi gagak ingin sekali hidup meniru burung yang dapat terbang di udara. Akhirnya terlepaslah dia dari masyarakat ayam, tetapi tidak diterima dalam masyarakat burung. Akan kembali hidup sebagai ayam, kandang sudah lama hilang. Akan hidup sebagai burung, sarang tidak ada. Sebab itu diantara segala burung, gagaklah yang tidak ada kandang dan tidak ada sarang. Dan berjalannya di ataspun tidak tenang dan kakinya tidak dapat menetap”.<br />
Sebagimana halnya dengan prediksi Hamka Amien Rais pun pernah meramalkan hal ini. Karena baginya, di Amerika Latin saja yang tidak memiliki tradisi keagamaan yang kuat seperti di dunia muslim (meskipun disana katolik yang dominan), ia tidak menghasilkan apa-apa bahkan lenyap dimakan waktu. Apalagi kalau di sebuah Negara muslim terbesar seperti Indonesia yang memiliki kultur dan tradisi yang kuat memegang agama. (Amin Rais, Islam dan Pembaharuan; ensiklopedi masalah-masalah, Rajawali Jakarta, Halaman Pengantar)<br />
Memang hingga saat ini perdebatan tentang sekularisme dan sekularisasi masih kerap terjadi dan saling berbenturan di kalangan intelektual Muslim bukan hanya di Indonesia tapi juga konteks dunia. Sehingga muncul kelompok-kelompok yang secara bertentangan. Ada yang menentang keras karena negara tidak bisa dipisahkan dari agama, ada juga yang mengupayakan sekularisme sebagai suatu paham yang sesungguhnya yang menurut mereka jika prinsip-prinsip sekularisme diterapkan secara benar justru melindungi kebebasan menjalankan keyakinan agama, berlaku adil terhadap agama-agama dan menyetarakan agama-agama dalam konteks masyarakat dan negara.<br />
Usaha untuk mensekularkan Indonesia sudah nampak nyata di kalangan intelektual Islam yang berhaluan liberal. Gagasan itu mulai diwacanakan secara terbuka oleh Nurcholis Madjid pada suatu diskusi yang diadakan tanggal 12 Januari 1970 di Jakarta. Dalam suatu makalah yang berjudul &#8220;Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat&#8221;. Sejak itu ide sekular mulai banyak di lontarkan hangga saat ini. Diantara yang sering melontarkan ide sekularisasi di Indonesia adalahLuthfi As-Syaukani, Mun&#8217;im A. Sirry, Hamid Basyaib,Ulil Abshar Abdala, dll.( Adnin Armas,MA, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, Gema Insani, Jakarata, P. 15)<br />
Namun sekulerisasi yang berkembang di Indonesia saat ini tidak lebih dari sebuah eksperimen yang gagal ditanamkan untuk menjadi ideologi masyarakat secara umum. Mungkin untuk kalangan tertentu atau sebagai wacana kampus, dia menunjukkan hasil yang siginifikan. Tetapi sebagai pandangan hidup masyarakat muslim Indonesia, itu hanya mimpi di siang bolong.<br />
Kalupun terlihat berhasil, itu hanyalah opini media massa yang terlalu over dalam membesar-besarkan berita. Buktinya, hingga saat ini tidak ada perubahan pandangan masyarakat muslim secara umum terhadap keyakinan dan agama mereka. Tidak seperti yang pernah terjadi di Turki era Kamal Attatruk misalnya, yang sampai menjadikan sekulerisme sebagai identitas Negara itu. Itupun sekarang sudah mulai goyah dengan kembalinya kesadaran banyak elit politik Turki tentang pentingnya agama dalam hidup dan kehidupan (M. Arfan Muammar, Majukah Islam Dengan Menjadi Sekuler?, CIOS, 2007, P 66 – 67).<br />
Di Indonesia, harapan para pembawa panji sekularisasi mengalami jalan buntu. Keputusan Pemerintah tentang Ahmadiayah, Penangkapan Lia Eden, Penangkapan beberapa pemimpin aliran sesat, gagalnya ide pembubaran Departemen Agama, dll merupakan bukti nyata akan tidak goyahnya negara kita dari serangan para Intelektual Liberal.<br />
Masyarakat, khususnya yang diperkotaan semakin menyadari pentingnya tuntunan agama, dan itu dapat kita lihat dengan mata telanjang. Pengajian banyak yang bermunculan dikampus-kampus, perusahaan bahkan instansi-instansi strategis pemerintahan. Begitu pula makin populernya kajian tentang ekonomi Islam dan lainnya, yang makin menampakkan corak baru keagamaan masyarakat, tetapi yang jelas bukan sekulerisasi.<br />
Sejarah juga membuktikan keberhasilan para pejuang muslim bangsa ini yang mengusir paham komunisme dari bumi Indonesia adalah bukti empiris paling dekat yang bisa kita jadikan sebagai tolok ukur. Padahal, seperti yang kita maklumi bersama, komunisme dikampanyekan bukan hanya dengan propaganda kata-kata melalui media massa, surat kabar dan semisalnya, tetapi juga dengan hasutan, kekerasan fisik, kekejaman dan sebagainya yang akhirnya hanya menjadi setetes dari sejarah kelam bangsa Indonesia.<br />
Meskipun, kalau dilihat dari program-program yang ditawarkan, dana yang dikeluarkan hingga NGO-NGO luar negeri yang mensponsori sekulerisasi di Indonesia, sangatlah luar biasa. Namun, realitanya semua itu tidak memperoleh “pasaran”. Lebih-lebih dikalangan masyarakat awam yang secara batin terikat kuat dengan doktrin agama<br />
Faktor-faktor terpenting yang dianggap sebagai penghalang utama sekulerisasi sehingga menjadikannya mandeg dan stagnan di Indonesia, karena kekokohan lembaga-lembaga keagamaan, khususnya Pondok Pesantren di bawah asuhan para Kyai, Ustaz dan semisalnya.<br />
Kondisi Indonesia tidak jauh berbeda dengan Mesir. Meskipun masyarakat kedua-dua Negara ini cenderung cepat menerima dan terpengaruh dengan budaya luar berupa hiburan dan semisalnya, tetapi masalah agama belum tentu. Di Mesir, upaya itu gagal secara makro, meskipun ada yang terpengaruh tetapi sangat relatif. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Mesir kuat dengan Al-Azharnya, sementara Indonesia kokoh dengan Pondok Pesantren.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/21/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1913</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentilan Bagi Pengusung Pluralisme Agama</title>
		<link>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/17</link>
		<comments>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/17#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 05:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pkuisidgontor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pku.isid.gontor.ac.id/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Saiful Bahri Ada sebagian kalangan bahkan banyak yang mengatakan bahwa sebab pokok konflik-konflik yang terjadi adalah agama, seperti konflik Palestina dengan Israil, Bosnia dengan Serbia, tragedi Poso antara orang Islam dengan Kristen, dan lain sebagainya. Atas dasar asumsi tersebut, &#8230; <a href="http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/17">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Saiful Bahri</p>
<p>Ada sebagian kalangan bahkan banyak yang mengatakan bahwa sebab pokok konflik-konflik yang terjadi adalah agama, seperti konflik Palestina dengan Israil, Bosnia dengan Serbia, tragedi Poso antara orang Islam dengan Kristen, dan lain sebagainya. Atas dasar asumsi tersebut, kata Anis Malik Toha, dosen perbandingan agama di  ISTAC Malaysia dalam bukunya Tren-Tren Plulalisme Agama:Studi Kritis, para ahli perbandingan agama meneliti kembali agama-agama kemudian menyimpulkan bahwa semua agama sama. Kesimpulan itulah yang akhirnya diakui dan dijadikan rujukan oleh banyak kalangan, padahal kesimpulan tersebut salah, karena telah terjadi pengkebirian  reduksionistik tentang agama.<br />
Toha menambahkan dalam buku yang sama, pernyataan semua agama sama kemudian dikembangkan oleh W.C. Smith dan John Hick yang keduanya menyebutnya dengan &#8220;teori global&#8221; inti dari teori ini adalah  semua agama sama, semuanya dapat dijadikan sebagai jalan untuk menuju keselamatan, perbedaaannya adalah hanya dari segi cara. Untuk mengembangkan tesis tersebut, W.C. Smith menganjurkan keharusan &#8220;tranformasi orientasi dari pemusatan agama menuju pemusatan iman dan himpunan tradisi&#8221;. Sedangkan John Hick menganjurkan keharusan &#8220;tranformasi orientasi dari pemusatan agama menuju pemusatan Tuhan&#8221;. Dari keduanya, terutama John Hick, teori pluralisme agama tersebar ke banyak negara atau bangsa, termasuk Indonesia.<br />
Di Indonesia paham ini banyak disebarluaskan oleh orang-orang yang mengaku ingin memperbaharui pemahaman ajaran agama, karena ajaran yang selama ini diajarkan sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan global atau zaman sekarang, kata mereka. Tapi apakah Indonesia yang penduduknya mayoritas islam mau menerima paham tersebut? MUI (Majlis Ulama Indonesia) sebagai lembaga keagamaan yang punya otoritas untuk menolak atau menerima paham ini telah mengeluarkan fatwa haram terhadap paham pluralisme agama. Dengan kata lain, MUI menolaknya.<br />
Mereka yang menyebarkan paham ini sering menggunakan surat al-Baqoroh ayat 62 dan 69 sebagai alat legitimasi bahwa al-Quran mengakui dan menerima pluralisme agama. Kata Dr. Syamsudin Arif dalam bukunya Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran hal 153, 2008 mereka telah melakukan mis interpretasi ayat tersebut, seharusnya mereka sebelum menafsirkan ayat tersebut melihat atau tidak mengabaikan kontek siyaq, sibaq serta lihaq, karena tidak melihat tiga kontek tersebut maka pada akhirnya kesimpulan mereka adalah pemeluk agama selain islam akan mendapatkan pahala atau surga dari Allah, yang paling penting mereka melakukan perbuatan yang baik (amal sholeh). Lebih lanjut lagi setelah memapaparkan 15 ulama  tafsir tentang ayat tersebut  beliau menyimpulkan bahwa ulama tafsir dari kalangan salaf dan kholaf sepakat: (1) ayat 62 surat al-Baqoroh turun berkenaan setelah para sahabat salman al-farisi yang belum masuk islam; (2) orang-orang yang munafiq dari kalangan kaum Muslimin, Yahudi maupun Nashroni adalah Kuffar, tidak beriman; (3) keselamatan, kedamian, dan kebahagian akhirat hanya dapat diraih melalui iman sejati dan amal sholeh sesuai dengan petunjuk Rasullah, Muhammad SAW.<br />
Lebih transfran dari Dr. Syamsudin Arif, Prof. Kh. Ali Yaqub dalam bukunya, Haji Pengabdi Syetan menyatakan bahwa paham yang menyatakan bahwa semua agama sama, semuanya dapat dijadikan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan adalah pemikiran sesat, yang tidak sesuai dengan Islam. Lebih lanjut beliau mengatakan   bahwa para pengusung paham ini telah melupakan atau mungkin sengaja melupakan ayat-ayat selain ayat tersebut, hadits-hadist Rasul dan sejarah yang mana menunjukan bahwa Rasul SAW telah mengajak para penguasa arab yang bukan beragama islam untuk masuk islam, seandainya Rasul menganut paham pluralisme agama, buat apa Rasul capek-capek mengajak para penguasa tersebut untuk masuk islam. Jadi jelaslah bahwa paham pluralisme agama bertentangan dengan islam.<br />
Tidak hanya ayat 62 dan 69 surat al-Baqoroh yang jadikan mereka sebagai alat legitimasi plurlaisme agama, para pengusung teori ini juga menjadikan Ibnu Arobi dari tokoh islam yang kata mereka sebagai legitimator pluralisme agama dalam islam. Apakah benar perkataan tersebut? Maka marilah sedikit kita telusuri untuk menjawab pertanyaan tersebut.<br />
Dr. Syamsudin Arif dalam bukunya yang sama mengatakan, memang sejak beberapa dasawarsa terakhir tokoh yang telah menulis lebih dari 400 karya ini (Ibnu &#8216;Arobi) telah dijadikan sebagian ikon pluralisme agama oleh sebagian tokoh untuk membenarkan filsafat Perennial atau al-Hikmah al-kholidah yang dipopulerkan oleh Fritjof Schoun, Seyyed Husein Nashir dan Wiliam. C. Chittick.<br />
Mungkin untuk mengetahui bahwa Ibnu A&#8217;robi bukanlah seperti apa yang katakan oleh para pengusung pluralisme agama maka disini kita memaparkan pandangan beliau tentang islam, syariat dan orang Yahudi dan Nashroni.<br />
Tentang islam, Sani Badron dalam majalah Islamia No.3 2004 mengatakan Ibnu Arobi bukanlah apa yang katakan oleh para pengusung pluralisme agama. Ibnu a&#8217;robi meyakini bahwa hanya Islam agama yang sempurna dan agama yang lain tidak. Kesempuranaan merujuk kepada kesempurnaan nash-nash atau teks agama. Beliau menegaskan firman Allah &#8220;pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamu&#8221; sebagai satu ketetapan mengenai kesempurnaan agama islam yang tidak perlu penambabahan.<br />
Mengenai syariat, Toha dalam bukunya Tren-Tren Plulalisme Agama:Studi Kritis 2005:246 bahwa Ibnu Arobi dalam kitabnya Al-Futuhat al-Makaiyyah mengatakan:</p>
<p>&#8220;Syariat-syariat semuanya adalah cahaya dan Syariat Muhammad SAW diantara cahaya-cahaya ini ibarat, seperti cahaya matahari diantara cahaya-cahaya bintang-bintang. Ketika cahaya matahari muncul maka reduplah cahaya-cahaya bintang-bintang tersebut dan terserap kedalam  cahaya matahari. Maka sirnanya cahaya-cahaya tersebut ibarat dihapusnya syariat-syariat tersebut oleh syariat Nabi Muhammmad. Dengan tetap eksisnya hakikat syarit-syariat tersebut sebagaimana eksisnya cahaya bintang-bintang.  Oleh karena itu diwajibkan mengimani semua rasul. Dan semua syariat mereka adalah benar dan tidak dinaskh (dihapus) karena batal atau salah sebagaimana diduga orang–orang bodoh. Maka semua jalan (syariat) mengacu pada jalan atau Syariat Nabi Muhammad SAW. Seandainya para rasul hidup pada zaman Nabi Muhamad niscaya mereka akan mengikutinya sebagaimana syariat mereka mengikuti syariatnya.</p>
<p>Sedangkan mengenai  orang Yahudi dan Nashroni, Dr. Syamsudin Arif dalam bukunya yang sama meruju langsung kepada Al-Futuhat al-Makiyyah mengatakan &#8220;menurut Ibnu A&#8217;robi, orang Yahudi dan Nashroni yang masuk islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran agama  murni mereka memang  mengharuskan beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikuti syariatnya. Pengikut Nabi Isa yang murni dan sejati tidak hanya mengimani kenabian Muhamamad SAW tetapi juga beribadah menurut Syariat Islam. Tentang Nabi Musa, beliau menegaskan dengan sabda Rasul SAW &#8220;seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka beliau pun tidak dapat tidak, harus mengikutiku.&#8221; Jelas dari penjelalasan ini menurut Ibnu Arobi orang-orang Yahudi dan Nashroni harus mengimani Rasul SAW dan mengikuti syariatnya, dengan kata lain mereka harus masuk islam, jika ingin mendapat keselamatan.&#8221;<br />
Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa Ibnu Arobi bukanlah apa yang dikatakan oleh para pengusung pluralisme agama, dia bukanlah tokoh yang mengakui bahwa semua agama sama, semua dapat dapat menjadi jalan keselamatan, baginya hanya islam jalan keselamatan.</p>
<p>2. Konsekuensi Logis  Pluralisme Agama</p>
<p>Adiain Husaini,  dalam bukunya Pluralisme Agama:Haram (Fatwa MUI. Kontro versi, dan Penjelasannya) menyebutkan konsekuensi logis dari paham pluralisme agama adalah penyerangan terhadap al-Quran dan Syariah Islam. Dia mengatakan pada hal 41 konsekuensi logis dari paham pluaralisme agama adalah pandangan yang relatif terhadap  kebenaran al-Quran. Sebab, kaum pluralis melihat keyakinan ummat Islam yang mutlak terhadap kebenaran dan kesucian al-Quran merupakan sumber pemahaman yang ekslusif, seolah-olah hanya islamlah dan kitab sucinya saja yang benar. Pada hal 46 dia menambahkan setelah kesucian Aqidah Islam tentang kebenaran al-Quran diobrak-abrik maka konsekuensi logis paham ini ialah mendekonstruksi Syariat Islam yang sudah mapan ratusan tahun.<br />
Dalam buku Tren-Tren Pluralisme Agama:Studi Kritis karangan Dr. Anis Malik Toha disebutkan implikasi dan konsekuensi logis dari paham pluralisme agama salah satunya adalah ancaman terhadap HAM (Hak Asasi Manusuia). Dalam buku ini yang dimaksud dengan ancaman terhadap adalah tidak bebasnya pemeluk agama untuk mewujudkan atau mengekspresikan jati dirinya secara utuh dalam melaksanakan ajaran agama yang diyakinninya. Toha mengatakan</p>
<p>&#8220;fakta emperis menunjukan bahwa para pemeluk agama yang minoritas yang hidup dalam naungan sistem pluralistik mengalami perlakuan diskriminatif yang menghalangi kebebasan mereka untuk mengeksperesikan jati diri keagamaannya, melakukan kewajiban-kewajiban ritual keagamaan, dan untuk memperoleh hak persamaan di depan undang-undang dan hukum seperti mengenakan jilbab bagi seoarang muslimah di sekolah-sekolah negri dan tempat-tempat kerja, penyembelihan hewan kurban untuk kalangan yahudi atau muslim. Jargon kebebasan yang diusung oleh sistem pluralistik liberal  hanyalah sebatas kebebasan berkeyakinan dan beribadah dalam arti sempit, kemudian buat apa arti sebuah keyakinan atau keimanan tanpa mempraketekkaknya?&#8221;</p>
<p>Membaca penejelasan  singkat diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa paham pluralisme agama yang menyatakan semua agama sama sangat berbahaya bagi aqidah ummat islam, karena paham ini akan mengantarkan ummat islam kepada keraguan terhadap al-Quran dan Syariat Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/17/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4122</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perang Opini</title>
		<link>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/14</link>
		<comments>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/14#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 04:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pkuisidgontor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pku.isid.gontor.ac.id/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kharis Nugroho Media adalah salah satu cara yang paling efektif dalam menyebarkan opini kepada masyarakat. Ketika orang-orang barat menguasai media, mereka membuat opini-opini yang miring terhadap umat islam semaunya sendiri, sehingga membuahkan persepsi negatif terhadap citra islam di mata &#8230; <a href="http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/14">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Kharis Nugroho<br />
Media adalah salah satu cara yang paling efektif dalam menyebarkan opini kepada masyarakat. Ketika orang-orang barat menguasai media,  mereka membuat opini-opini yang miring terhadap umat islam semaunya sendiri, sehingga membuahkan persepsi negatif terhadap citra islam di mata internasional. Itulah buah dari kesungguhan mereka dalam menghancurkan Islam. Dengan strategi  apa mereka bisa seperti itu? Ya, dengan menjajah negeri-negeri islam, mereka turut menyebarkan paham-paham sekularisme yang merupakan mainstream mereka.Barat mempersiapkan kader-kader yang akan meneruskan pola berpikir sekularistis jika mereka kelak meninggalkan negeri jajahannya. Tidak cukup itu saja, mereka juga menfasilitasi para intelektual muda islam untuk di sekolahkan di barat dan dari metode itulah misi brainwash mereka dimulai. Dari situlah virus-virus sekularisme, pluralisme dan liberalisme terealisasikan yaitu lewat tangan-tangan kaum intelektual muda islam itu sendiri. Halus, lembut, bahkan sampai kita tidak sadar kalau pemikiran barat yang serba materialis itu sudah di sebarkan oleh umat islam sendiri. Hebat bukan ?? Kalau saja mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menegakkan kebatilan dan menghancurkan islam dari segala aspek, masihkah kita malu-malu, minder, bahkan tidak berani untuk mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil ?</p>
<p>Sudah saatnya ulama dan kaum intelektual muslim berlaku aktif dan tidak monoton. Mereka berkewajiban memelihara kemurnian Islam dan elemen-elemennya dari berbagai penyimpangan dan penafsiran keliru, walaupun kadangkala harus bercokol secara frontal dengan para pendukung kebatilan  baik mereka yang liberal, sekuler, dan sejenisnya. Semua ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab ulama dan agamanya. Kalau tidak, Islam akan berubah menjadi bahan permainan yang ditafsirkan seenaknya oleh mereka, sebagaimana halnya agama-agama di luar islam yang sudah berubah dari wahyu samawi yang sakral menjadi ajang permainan orang-orang &#8220;pintar&#8221; mereka.</p>
<p>Islam tidak boleh ditafsirkan semaunya sendiri sengan mengatasnamakan modernisasi, kebebasan berpikir. Apresiasi, dan sejenisnya agar sesuai dengan target dan kepentingan pribadi mereka. Wahyu diciptakan untuk membentuk kehidupan manusia, bukan sebaliknya, wahyu dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kemauan manusia. Manusia harus mendengar apa kata wahyu, bukan wahyu harus mendengar apa maunya manusia.</p>
<p>Dalam pandangan sekuler, Islam harus mengikuti perkembangan manusia. Dalam arti, ajaran-ajaran yang mereka anggap tidak sesuai lagi dan tidak dapat diterapkan di era globalisasi ini, konsekuensinya harus dihilangkan kendatipun itu suatu kewajiban mutlak yang bersifat universal. Atau mereka melakukan takwil (reinterpretasi) terhadap ketentuan islam agar lebih mudah diterima dan tidak dianggap berseberangan dengan kemauan masyarakat modern. Seperti hukum murtad. Kata mereka, hukuman mati untuk orang murtad itu tadinya dalam kondisi perang, bukan dalam kondisi damai. Jika dalam kondisi perang, murtad itu dalam bahasa sekarang adalah &#8220;pembelotan&#8221;. Karenanya, wajar jika dihukum mati. Begitulah mereka membuat takwil seenaknya terhadap ketentuan hukum islam.</p>
<p>Hasan Hanafi (Mesir), Nasr Hamid Abu Zaid (Mesir), Nurkholis Madjid (Indonesia) dan Syafi&#8217;i Ma&#8217;arif (Indonesia) adalah contoh dari &#8220;pakar muslim&#8221; yang sudah terkena virus-virus sekularisme dan liberalisme. Dengan bangganya mereka menyebarkan paham-paham sesat mereka kepada publik melalui media-media yang memang sudah dirancang untuk mendukung pemikiran-pemikiran mereka. Dan semakin hari semakin banyak orang yang &#8220;sakit&#8221; yang terjangkit virus-virus yang disebarkan oleh &#8220;pakar muslim&#8221; seperti yang disebut diatas tadi. Kalau saja para &#8220;pakar muslim&#8221; itu menyimpan &#8220;bibit penyakitnya&#8221; itu untuk dirinya sendiri, agaknya kaum muslim tidak terlalu repot. Akan tetapi ide itu dipublikasikan di media massa dan disebarluaskan, ini sudah lain masalahnya. Mendiamkan saja seperti menyetujui paham itu tersebar. Semoga kita diselamatkan dari &#8220;bibit-bibit penyakit&#8221; itu, amien.</p>
<p>Oleh karena itu, umat islam harus sadar akan pentingnya perang opini dalam mengcounter para pemikir yang sudah terkena virus-virus sekuler dan liberal itu, baik melalui tangan, lisan atuapun hati supaya tidak berakibat fatal dalam penyesatan aqidah islamiyah. Orang yang termakan oleh opini sesat bahwa semua agama adalah sama dan benar, akan rusaklah keyakinan atau keimananya bahwa hanya islam agama yang benar dan diridhoi Alloh ( Al Imron : 19, 85 ). Contoh lain adalah orang yang termakan opini sesat dan meyakini bahwa syariat islam itu tidak sempurna, sudah usang, dan perlu diperbaharui ata direkonstruksi, otomatis akan menjadi menentang ayat-ayat Allah yang mewajibkan kaum muslimin untuk bertahkim dengan hukum Allah ( Al Maidah: 44, 45, 47 ). Jadi, Penyesatan opini adalah hal yang sangat berbahaya, apalagi yang berkaitan langsung dengan persoalan akidah Islam.</p>
<p>Mudah-mudahan masih banyak kaum muslimin yang mau menggunakan akalnya untuk membiasakan diri berpikir secara jernih, bersikap kritis, dan tidak mudah terbuai oleh opini-opini sesat yang semakin leluasa bergentayangan di era globalisasi atau zaman yang penuh fitnah ini, meskipun yang membawa opini adalah para pemimpin, pembesar, atau tokoh yang popular di tengah masyarakat.</p>
<p>Allah mengingatkan dengan keras nasib orang-orang yang mengikuti para pemimpin dan para pembesar secara membabi buta, tidak peduli apakah pemikiran dan sikap si pemimpin itu benar atau sesat. Orang seperti ini tidak mau menggunakan akalnya, mereka bersikap taklid buta. Sikap seperti itulah yang diingatkan dengan keras oleh Al-Quran. Jika para pemimpin itu ternyata berbuat salah, di akhirat nanti, para pengikut fanatiknya akan dijebloskan ke neraka bersama para pemimpin yang sesat tadi.</p>
<p>Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkaa, Alangkah baiknya andaikata kami taat kepad Alloh dan taat (pula) kepada rasul.<br />
Dan, mereka berkata : Ya tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan uyang benar. Ya tuhan, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. ( Al Ahzab : 66-68 )</p>
<p>Begitulah para pengikut fanatik yang sudah tidak menggunakan akalnya lagi dan hanya bersikap &#8216;apa kata pemimpin&#8217; meskipun para pemimpin mereka sesat.</p>
<p>Sudah hampir tiba suatu zaman yang kala itu tidak ada lagi dari islam kecuali hanya namanya dan tidak ada lagi dari Al-Qur&#8217;an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di kolong langit. Dari mulut para ulama itulah keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali (HR Baihaqi, dari Ali bin Abi Tholib)</p>
<p>Untuk itu, setiap kemungkaran, apapun bentuknya, harus dicegah atau dilawan agar tidak leluasa berkembang di tengah masyarakat. Nabi saw. bersabda,</p>
<p>Barangsiapa diantaramu melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu, ubahkah dengan lisannya, dan jika tidak mampu, ubahklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. (HR Muslim dan Ashabus Sunan).</p>
<p>Allah SWT pun berfirman,</p>
<p>Dan, hendaklah aa di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imron : 104).</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, yang ditunjukkan oleh Allah mana yang benar dan mana yang salah, dan diberi kemampuan untuk mengikuti yang baik dan menjauhi yang salah atau sesat, Amien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pku.isid.gontor.ac.id/index.php/archives/14/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7565</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

